Seorang warga Aceh Sumbang sebuah Mobil Mercy untuk Palestina

Posted by Ridha Putra | Monday, January 6, 2014 | Posted in ,

Satu unit mobil dilelang di lokasi konser kemanusiaan/Salman Iqbal | antero

Salah seorang warga Aceh menyumbangkan 1 Unit mobil mercy untuk Palestina dalam Konser Kemanusiaan untuk Palestina, Ahad (5/01).

Selain mobil, beragam sumbangan juga mengalir, tercatat Panitia konser kemanusiaan peduli Palestina berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 962 juta dan sejumlah barang beharga lainnya yang disumbangkan oleh ribuan masyarakat yang memadati ruang utama AAC Dayan Dwwod unsyiah Banda Aceh Minggu pagi. 

Pada kesempatan itu artis religi opick juga melelang sejumlah barang-barang seperti kaligrafi, shal dari Gaza, Tas dari Gaza dan lukisan Syeh Ahmad Yasin. 

Ketua pantia konser Farid Nyak Umar menyebutkan selain 1 unit mobil ada juga warga yang menyerahkan sepeda motor sebanyak 2 Unit, 22 buah cincin emas, kalung emas 5 buah, jam tangan 14 unit, gelang emas 5 buah, 10 anting dan 2 buah hand phone. 

“Ada warga nelpon katanya ada mercy dia yang mau dilelang, mobil itu katanya pernah dinaiki oleh Soekarno ketika ke Aceh, jika semua dijumlahkan Alhamdulillah sudah lebih 1 Milyar”ujarnya.

Sementara itu proses lelang barang-barang milik Opick berlangsung sengit, sejumlah warga terlihat begitu antusias mengikuti lelang, salah satunya adalah wakil walikota Banda Aceh Illzia Sa’aduddin Djamal. Pada kesempatan itu Illiza memenangkan lelang sebuah kaligrafi Rp. 40 juta dan lelang sebuah lukisan Syeh Ahmad Yasin senilai Rp. 35 juta. 

“Lukisan ini akan saya letakkan di Pemko Banda Aceh”Ujar Illza. 

Konser kemanusiaan peduli Palestina di Banda Aceh/Salman Iqbal

Sementara warga lainnya juga memenangkan lelang sejumlah kaligrafi dengan harga antara Rp. 30 juta sampai dengan Rp. 40 juta, bahkan seorang ibu dikota Banda Aceh memenangkan lelang sebuah tas yang dibuat oleh janda Palestina dengan harga Rp. 55 juta.

“ Tas ini dibuat dengan air mata janda-janda Palestina, dengan ini kita bisa Bantu mereka”sebut Opick disela-sela proses lelang berlangsung. 

Selain dengan cara lelang, sejumlah warga juga naik kepanggung untuk menyerahkan sumbangan secara sukarela mulai dari Rp. 2 juta sampai dengan Rp. 20 juta. 

“ Bagi masyarakat yang mau menyumbang tanpa melalui proses lelang silahkan naik kepanggung”pancing Opick yang disambut antusias masyarakat yang hadir.

Sementara itu selain penampilan Artis religi Opick dan Liza Aulia, kegiatan konser kemanusiaan juga dimeriahkan dengan pembacaan Puisi oleh ayah oong yang datang bersama rombongan Opick dari Jakarta. [radioantero.com]

Abang Gorok Adiknya Hingga Tewas !

Posted by Ridha Putra | Thursday, January 2, 2014 | Posted in

BIREUEN – Halim Budiman (43), warga Desa Ulee Gle, Kecamatan Makmur, Bireuen, tewas bersimbah darah setelah digorok abang kandungnya, Naharuddin Budiman (48). Insiden berdarah itu terjadi di meunasah (surau) desa setempat, Selasa (31/12) sekira pukul 02.30 WIB dini hari.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi dari berbagai sumber, Rabu (1/1) kemarin, selama ini korban yang belum menikah itu jarang pulang ke rumah dan setiap malam menginap di meunasah seorang diri. Meunasah Desa Ulee Glee Makmur berbentuk meunasah manyang (meunasah panggung).
Malam itu nahas menimpa Halim, ketika abang kandungnya, Naharuddin, mendatangi meunasah tersebut. Leher Halim digorok sang abang dengan sebilah celurit sehingga adiknya itu tewas di tempat.
Uniknya, seusai menggorok korban, Nahar langsung memberitahukan kepada keuchik setempat apa yang barusan dia lakukan. Selanjutnya ia menyerahkan diri ke Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Makmur. Setelah beberapa jam di mapolsek tersebut, Nahar digiring ke Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Bireuen untuk mempertanggungjawaban perbuatannya.
Warga yang mengetahui Halim tewas digorok abangnya berbondong-bondong ke meunasah setempat. Paginya jenazah korban dievakuasi ke RSUD dr Fauziah oleh relawan PMI Makmur dengan ambulans milik Puskesmas Makmur untuk divisum. Hasil visum, korban mengalami luka gorok dengan panjang 25 centimeter (cm), lebar 6 cm, dan kedalaman 5 cm. Setelah divisum mayat Halim kembali dibawa pulang ke desanya.
Kapolres Bireuen AKBP M Ali Khadafi melalui Kasat Reskrim AKP Jatmiko kepada Serambi menerangkan, dari hasil pemeriksaan sementara terhadap tersangka, kasus penggorokan itu berlatar belakang masalah keluarga. Pelaku mengaku sudah kehilangan kesabaran melihat tingkah adiknya yang kerap meresahkan keluarganya.
“Saat ini tersangka Naharuddin sudah kita tahan untuk diproses. Tersangka mengaku sudah merencanakan pembunuhan tersebut, sehingga ia dijerat dengan KUHP Pasal 338-340 pembunuhan berencana dan terancam hukuman 15 tahun penjara,” terang Jatmiko.
Naharuddin dalam keterangannya kepada Serambi di Mapolres Bireuen, Selasa (31/12), mengaku sudah merencanakan untuk membunuh adik kandungnya itu. Alasannya, Halim selalu menghalang-halangi dan tidak mengizinkan dirinya menggarap sawah warisan orang tua mereka. Selain itu, banyak persoalan keluarga yang selalu dia tentang sehingga tak bisa diambil keputusan final dan kompromis.
Bahkan sudah sering korban mempermalukan Naharuddin di depan umum sehingga Nahar menaruh dendam dan ingin membunuhnya. “Halim sudah beberapa kali kami peringatkan agar sikapnya bisa berubah, tapi ia tetap pada perbuatan buruknya, sehingga membuat kami kesal,” kata Naharudin yang sehari-hari sebagai tukang panjat kelapa di desanya.
Ia tambahkan, Halim selama ini juga sudah sangat meresahkan pihak keluarga sehingga pada malam kejadian Nahar datang menemui Halim yang tidur di meunasah panggung Desa Ulee Glee seorang diri. Saat itu Nahar membangunkan Halim dan menanyakan kartu Asuransi Kesehatan (Askes) milik ibunya karena sang ibu ingin berobat ke rumah sakit. Tapi Halim mengatakan kartu Askes itu sudah dibakarnya. “Karena kesal saat itulah saya langsung menggorok lehernya dengan celurit. Dengan sekali gorok, berakhir hidupnya,” kata Naharuddin yang mengaku tidak menyesali sedikit pun perbuatannya itu. (c38)

MoU Helsinki dan Aceh Damai Sejahtera

Posted by Naufal Khalish | Friday, August 23, 2013 | Posted in ,

InfoKeuRakan | Aceh - Jangankan sebagai aktor utama, bahkan figuranpun bukan, kecuali sesuai kapasitas dan kemampuan, seperti halnya  rakyat Aceh lainnya sayapun ikut mendorong dan mendukung penandatanganan MoU Helsinki yang merupakan instrumen politik bagi perdamain Aceh setelah sejak tahun 1976 hidup dalam suasana konflik. Dan sepenuhnya mendukung bahwa 15 Agustus ditetapkan sebagai Hari Perdamaian Aceh dan diperingati setiap tahunnya.

Hanya yang saya tidak sependapat apabila ada klaim-klaiman dan monopoli-monopolian akurasi pemahaman serta peran/jasa sekaitan dengan MoU Helsinki itu. Menurut saya semua rakyat yang cinta damai, sesuai kapasitas, kemampuan dan cara masing-masing memiliki peran niscaya dapat hidup aman dan damai di Aceh dan faktanya dengan kehendak dan izin Allah ‘Azza wa Jalla, MoU Helsinki menjadi sebab musabab penghentian konflik panjang itu.

Inheren dengan kesimpulan ini, adalah anggota parlemen Indonesia yang legal formal reprensentasi rakyat Indonesia membuat Ketatapan MPR-RI yang menjadi landasan konstitusional bagi penghentian konflik bersenjata di Aceh, kecuali ada beberapa gelentir anggota parlemen kala itu yang bersuara sumbang.

Adapun Tap MPR dimaksud adalah Tap MPR-RI No IV/MPR/2OO2, antara lain mengamanahkan; “Meneruskan dialog dan perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan semua komponen masyarkat Aceh untuk mendapatkan kesamaan pandangan bagi penyelesaian konflik secara damai, berkeadilan, bermartabat dan konstitusional dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perundingan dan dialog itu harus mencapai kesepakatan penghentian permusuhan untuk kemudian dengan sungguh-sungguh dan konsekuen dipatuhi dan dilaksanakan di semua tingkatan dan tempat”.

Ketika darurat militer diberlakukan di Aceh, Tap MPR ini menjadi landasan menentang dan menolaknya, dan dalam waktu yang bersamaan menyatakan dengan tegas dan transparan, bahwa darurat militer di Aceh adalah tindakan liar, karena ia bertentangan dengan Tap MPR tersebut yang mengamanahkan konflik Aceh itu harus diselesaikan secara damai, berkeadilan dan bermartabat melalui dialog dan perundingan, bukan dengan mesin perang.

Saya masih ingat, ketika Jusuf Kalla Wakil Presiden kala itu begitu sungguh-sungguh mendorong dialog dan perundingan Helsinki antara representasi pemerintah RI dan GAM, segelintir anggota parlemen di Senayan mengeluarkan suara sumbang yang menentang dialog dan perundingan di Helsinki, serta merta Jusuf Kalla menyatakan bahwa dialog dan perundingan itu adalah amanah Ketetapan MPR-RI.

Betapa Tap MPR ini merupakan fakta sejarah keikutsertaan dan peran/jasa rakyat Indonesia mendorong dan mendukung perdamaian Aceh, sekaligus menafikan klaim-klaiman dan monopoli-monopolian peran/jasa sekaitan dengan perdamaian Aceh itu.

Dengan demikian, dari MoU Helsinki itu sejatinya seluruh stake-holder tersebut harus marasakan dan menikmatinya, wabilkhusus seluruh rakyat yang hidup dan tinggal dalam teritori Aceh, apapun agama, suku dan etnisnya sebagai pihak yang memang berkepentingan dan bersentuhan langsung dengan MoU Helsinki itu, niscaya hidup damai dan sejahtera.

Aceh Damai

Aceh damai itu tidak hanya sekedar tertera di atas kertas dan jargon, tatapi seluruh rakyat harus dapat merasakannya, sekaligus bersama-sama dengan sungguh-sungguh menjaga dan merawat perdamaian itu. Dengan kata ain, tidak boleh terjadi kehidupan damai dinikmati oleh segelintir orang, sementara yang lainnya susah, apoh-apah dan terdlalimi (meu-elanya).

Sekaitan dengan perwujudan damai dan perdamaian di Aceh, saya sependapat dengan ungkapan,”tidak ada perdamaian tanpa keadilan (no peace whitout juctice, laa salaam biduun al-’adaalah)”. Juga saya tambahkan,”Aceh tidak akan damai apabila interaksi antar personal  dan komunitas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan tidak ada kebersamaan, kesetaraan dan toleransi, taat asas dan penegakan hukum (law enforcement). Faktanya, fondasi niscaya terwujudnya damai dan perdamaian tersebut masih belum terwujud.

Agar tidak dituding asal bunyi, fitnah, ghibah, meu-upat dan rupa-rupa tudingan lainnya dari anasir anti damai, berikut ini saya menunjukkan fakta dan realita betapa apa yang saya sebut kebersamaan, kesetaraan dan toleransi, taat asas dan penegakan hukum itu belum terwujud di Aceh.

Sekaitan dengan fakta dan realita ini pula saya tidak dapat menerima alasan, bahwa Aceh masih dalam masa transisi, kasuistis, salah prosedur,tidak ada perintah, bukan kebijakan, tanggungjawab oknum dan rupa-rupa alasan ala rezim orde baru (orba) lainnya. Janganlah kita yang pernah memusuhi dan melawan orde baru, tetapi dalam upaya membela dan melanggengkan kebobrokan dan kedlaliman dengan sadar dan sistemik masih mengikuti (muqallid) dan bermakmum pada rezim refresif dlalim itu.

Syahdan, pertama, ihwal persamaan, kesetaraan dan toleransi. Dalam interaksi sosial kemasyarakatan ada pengelompokan berdasarkan “kasta”, brahmana (first class) dan sudra (second class). Yakni ada komunitas ”deelat tuanku” yang harus dihormati dan disanjungi. Perilakunya tidak boleh dikritik. Memiliki rupa-rupa keistimewaan dan keutamaan. Dipihak lain ada rakyat jelata, alias “siduek kubu” yang dipaksa harus tunduk dan patuh terhadap titah dan kehendak para “deelat tuanku” itu.

Contoh paling terang benderang adalah penyusunan dan penetapan beberapa qanun yang menimbulkan kontrovesi dan penolakan dalam masyarkat, karena dalam proses penyusunannya dengan dalih ini dan itu tidak menunjukkan toleransi mengabaikan aspirasi kasta sudra, “the second class”.

Rasulullah Muhammad SAW dalam salah satu hadisnya menegaskan; “Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Tidak ada kelebihan, keistimewaan dan keutamaan Arab dari ‘ajam (non Arab), yang berkulit putih dari yang hitam, kecuali berdasarkan ketaatan kepada Allah (taqwa)”.

Kedua, taat asas berdasarkan sistem/herarkhi hukum dan perundang-undangan Indonesia, karena de jure dan dan de facto Aceh adalah bagian dari NKRI, sebagaimana juga diamanahkan dalam alinea kedua Mukadimah MoU Helsinki. Terhadap hal ini masih amat sangat jelas, dengan rupa-rupa dalih kaum brahmana mempertontonkan perilaku taat asas sesuai selera dan tebang pilih berdasarkan kalkulasi untung-rugi bagi diri dan kaumnya berkaitan dengan pelaksanaan materi hukum dan perundang-undangan itu.

Lihat saja amanah MoU Helsinki dan UUPA ihwal Qanun tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), Qanun Jinayat dan Hukum Acara Jinayat yang sudah sekian lama dituntut dan dibutuhkan berbagai pihak, tetapi sampai saat ini belum jelas nasibnya. Janji tinggal janji, namun faktanya masih meu-apam (tidak jelas).

Demikian pula pembentukan sebuah Pengadilan Hak Asasi Manusia, dan Komisi Bersama Pemyelasaian Klaim. Qanun-qanun yang faktanya tidak diminta dan belum menjadi kebutuhan yang bersentuhah langsung dengan kesejahteraan rakyat justru sim salabim, apit-apit awe, lam seklep siklap sudah jadi, tidak peduli dengan kontroversi dan penolakan massif dalam masyarakat.

Adalah pula, berkaitan dengan perilaku politik dalam pasta demokrasi lima-tahunan, pemilukada dan pemilulegislatif masih ada yang mempertonton watak barbarian, kekerasan dan brutalitas, baik terhadap manusia maupun benda-benda pedukung. Hal ini disebabkan tidak taat asas tentang pesta demokrasi limatahunan itu. Lebih dari itu, tidak memiliki iman yang berdampak bagi tidak ada rasa malu serta ukuran halal- haram dalam upaya mendapat dan mempertahan kekuasaan.

Fakta ini merupakan biang keladi bagi rusak dan kacau balaunya kehidupan yang aman dan damai dalam masyarkat dan ia bertentangan dengan tujuan dan doktrin MoU Helsinki dan UUPA serta peradaban universal.

Ketiga, penegakan hukum dalam kaitannya, bahwa Indonesia negara hukum dan doktrin  persamaan di depan hukum (equality before the law, al-musaawaat amam al-hukm). Betapa di tanoh Aceh ini masih terlihat perilaku melawan hukum dan hak asasi manusia (HAM) yang secara terang-terangan dilakukan, dimana instrumen hukum tidak berdaya menghadapinya, sehingga muncul gerombolan fasis yang  berada di atas hukum dan kebal hukum (the untouchable).

Cukup banyak kasus tindakan melawan hukum dan HAM di Aceh, baik dalam kategori delik aduan, delik umum dan pelanggaran HAM, tetapi tidak ada proses hukum yang adil dan transparan dan berakhir dengan penjatuhah sanksi hukum bagi si pelanggar hukum dan HAM itu. Diantaranya kasus brutalitas dan kekerasan yang menimpa mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, proses hukumnya terkesan asal-asalan yang hanya menjerat dan menghukum seorang figuran (sibeureukaih gulam).

Sinonim dengan kasus pembunuhan sadis yang kualitasnya dapat dikategorikan pelanggaran HAM berat, dimana korbannya beberapa hamba Allah mustadh’afin etnis Jawa yang sedang mencari nafkah di Aceh dan Saiful “Cagee” di Keude Matang Glumpangdua Bireuen menjelang pilkada lalu. Lebih tragis lagi penegakan hukum terhadap kasus perilaku barbarian yang menimpa seorang khatib yang sedang berkhutbah di atas mimbar salah satu masjid di Keumala Kabupaten Pidie, sampai hari ini tidak jelas prosesnya.

Akan halnya kasus pelanggaran HAM berat terakhir, yakni pembunuhan Cek Gu yang jenazahnya bersama mobil digulingkan ke sungai Tiro-Ie Leubeue Pidie, kita tunggu saja proses penegakan hukum yang transparan dan memenuhi rasa keadilan.

Siapapun yang terlibat dalam tindakan pelanggaran HAM berat ini, aktor intelektual dan eksekutornya harus diseret ke depan mahkamah sebagai bukti nyata Indonesia ini negara hukum, dan semua warga negara sama di depan hukum, sekaligus upaya nyata mewujudkan kehidupan yang aman dan damai dalam masyarkat.

Aceh yang Sejahtera

Sejahtera, ialah selamat, tak kurang satu apapun, aman dan sentosa (Badudi-Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1994, hal 1241). Aceh yang sejahtera adalah rakyat yang hidup dan tinggal dalam teritori Aceh, apapun agama, suku dan etnisnya niscya dapat merasakan keselamatan, tak kurang satu apapun, aman dan sentosa  menempuh hari-hari dalam kehidupannya.

Hal ini disamping usaha sendiri dengan tekun dan sungguh-sungguh serta taat asas, baik asas negara maupun syari’at Allah, juga bermodalkan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) harus diusahakan oleh para pemimpin yang sudah mendapat mandat dari rakyat (ulul amri/pejabat publik) mengurus segala hal untuk tugas dan tujuan mensejahterakan rakyat. Dalam konteks MoU Helsinki khususnya, yang selama ini menjadi bahan “tadarusan” para elit politik dan pemimpin di Aceh ada “surah” dan “ayat-ayat” yang menjadi platform dah doktrin mensejahterakan rakyat.

Pertama, para kombatan dan korban konflik. Terdapat dalam “surah” Reintegrasi Kedalam Masyarakat. Dalam “ayat-ayat” dibawahnya antara lain disebutkan; “Pemerintah RI akan mengalokasikan dana bagi rehabilitasi harta benda publik dan perorangan yang hancur atau rusak akibat konflik untuk dikelola oleh Pemerintah Aceh (3.2.4).

Pemerintah RI akan mengalokasikan tanah pertanian dan dana yang memadai kepada Pemerintah Aceh dengan tujuan untuk memperlancar reintegrasi mantan pasukan GAM ke dalam masyarakat dan kompensasi bagi tahanan politik dan kalangan sipil yang terkena dampak. Pemerintah Aceh akan memanfaatkan tanah dan dana sebagai berikut;

a) Semua mantan pasukan GAM akan menerima alokasi tanah pertanian yang pantas, pekerjaan atau jaminan sosial yang layak dari Pemerintah Aceh apabila mereka tidak mampu bekerja.

b) Semua tahanan politik yang memperoleh amnesti akan menerima alokasi tanah pertanian yang pantas, pekerjaan, atau jaminan sosial yang layak dari Pemerintah Aceh apabila tidak mampu bekerja.

c) Semua rakyat sipil yang dapat menunjukkan kerugian yang jelas akibat konflik akan menerima alokasi tanah pertanian yang pantas, pekerjaan, atau jaminan sosial yang layak dari Pemerintah Aceh apabila tidak mampu bekerja
(3.2.5).

Pemerintah Aceh dan Pemerintah RI akan membentuk Komisi Bersama Penyelesaian Klaim untuk menangani klaim-klaim yang tidak terselesaikan (3.2.6)”.

Kedua, kesejateraan bagi rakyat keseluruhan (lihat: “surah” Ekonomi, “ayat” 1.3.1 sampai 1.3.8).

Betapa indah isi MoU Helsinki berkaitan dengan konsep mensejahterakan rakyat. Insya Allah semua ini akan menjadi kenyataan apabila Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh secara nyata menunjukkan kemauan politik (political will) dan aksi politik (political action).

Terutama yang paling berkewajiban dan berkepentingan adalah Pemerintah Aceh dengan karakter tidak sektarian, melindungi dan mengayomi seluruh rakyat, plus anggota DPR-RI dan DPD-RI mewakili Aceh di Senayan serta DPRA. Sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) nya sejatinya menunjukkan senergisitas, bersama-sama, sungguh-sungguh dan pro-aktif terus menerus mendorong Pemerintah Pusat niscaya membuat instrumet hukum yang diperlukan sebagai asas legalitas implementasi MoU Helsinki dan UUPA.

Menurut saya, tidak ada gunanya “dikandang”  bertalu-talu dan sahut menyahut berteriak menumpah-ruah kesalahan pada Pemerintah Pusat sekaitan dengan urgenya instrumen hukum sebagai turunan MoU Helsinki dan UUPA. Tetapi semestinya melalui wakil-wakil Aceh di Senayan (DPR dan DPD-RI) yang harus menunjukkan kepiawaian retorika dan argumentasi sebagai wujud nyata upaya memperjuangkan semua aspirasi rakyat Aceh yang diwakilinya.

Hal ini juga relevan dan sekaligus merespons semangat, dorongan dan  keinginan cerdas Mendagri melalui statemetnnya; “Jangan lagi (masalah bendera Aceh) yang ditonjol-tonjolkan. Penting betul bendera itu. Menurut saya lebih penting kesejahteraan. Akibat pembahasan politik soal bendera yang berkepanjangan, program kesejahteraan rakyat Aceh terabaikan. Ada rakyat Aceh yang memperhatikan persoalan bendera Aceh, namun lebih banyak yang menginginkan kesejahteraan” (Serambi, 13/08). Wallaahu ‘alamu bash-shawaab.

(Penulis adalah Anggota MPR/DPR-RI periode 1992-2004 dan Anggota Majlis Syura Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Aceh)

Polisi Himbau Pedagang Tidak Jual Petasan

Posted by Naufal Khalish | Wednesday, July 24, 2013 | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | Pidie – Polisi Resor Pidie meminta para pedagang petasan di seluruh Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya untuk tidak menjual barang tersebut di bulan ramadhan dan hari raya Idul fitri nanti.

Hal tersebut dikatakan Kapolres Pidie, AKBP Sunarya kepada AtjehLINK, Selasa (23/7/2013) di ruang kerjanya. Imbauan itu dikeluarkan polisi demi kenyamanan dan ketentraman warga yang beribadah dan istrahat.

Kapolres menegaskan, apabila tidak diindahkan maka akan diteribkan oleh polisi dan barang akan disita serta pemiliknya akan ditindak lanjuti. ”Jika tidak digubris, akan kita sita petasannya, pedagangnya juga akan kita proses,” katanya.

Selain itu, dalam waktu dekat ini polisi akan melakukan razia petasan di seluruh tempat di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Namun menurut Sunarya, ada juga jenis kembang api dan petasan serta para pedagang yang sudah mendapatkan izin. ”Artinya tidak semua petasan dan kembang api ilegal atau tidak diizinkan,” tambahnya.

Adapun jenis petasan yang diberikan izin, lanjutnya, yakni berupa kembang api kawat dan air mancur. Sedangkan toko-toko yang mendapatkan izin di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, diantarnya, Toko Satriadi, Toko Anda Untung, Toko  Anwar Hidayah (Sigli), Toko Afdal, Toko Adi Karya, Toko Keluarga Jasa Saudara, (pasar inpres Sigli).

Toko H Fadli, Mawar Indah, Toko Rezeki Baru, Toko Doa Bunda (Ule Glee), Toko Amiruddin (Kembang Tanjung), Toko Zulfikar (Mutiara Timur), Toko M Yahya dan UD Rahmad (Simpang Tiga).

|AL|

Ini Dia Tarif Baru Angkutan L-300 Pasca Kenaikan BBM

Posted by Naufal Khalish | Monday, July 22, 2013 | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | Banda Aceh – Seiring telah diumumkannya kanaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu, tarif angkutan umum turut mengalami kenaikan khususnya dari Banda Aceh ke berbagai daerah tujuan dalam Provinsi Aceh.

Seorang penjaga loket saat dijumpai di Terminal L-300 di kawasan Lueng Bata, Minggu (21/7/2013) mengatakan tarif baru itu diberlakukan sejak tanggal 23 Juni lalu sesuai peraturan baru yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Organda Aceh.

Berikut tarif baru angkutan umum L-300 dari Banda Aceh ke berbagai daerah tujuan dalam Provinsi Aceh :

Banda Aceh – Sigli Rp 35.000

Banda Aceh – Beureunun Rp 40.000

Banda Aceh – Meureudu Rp 45.000

Banda Aceh – Samalanga Rp 55.000

Banda Aceh – Bireun Rp 60.000

Banda Aceh – Redelong Rp 105.000

Banda Aceh – Takengon Rp 115.000

Banda Aceh – Angkop Rp 120.000

Banda Aceh – Jagong Jeget Rp 120.000

Banda Aceh – Takengon – Bl. Kejeuren Rp 190.000

Banda Aceh – Takengon – Kuta Cane Rp 220.000

Banda Aceh – Matang Glp. Dua Rp 65.000

Banda Aceh – Krueng Geukuh Rp 70.000

Banda Aceh – Lhokseumawe Rp 75.000

Banda Aceh – Geudong Rp 80.000

Banda Aceh – Lhoksukon Rp 85.000

Banda Aceh – Cot Girek Rp 90.000

Banda Aceh – Panton Labo Rp 90.000

Banda Aceh – Idi Rp 95.000

Banda Aceh – Peureulak Rp 105.000

Banda Aceh – Langsa Rp 115.000

Banda Aceh – Seureuwey Rp 120.000

Banda Aceh – Kuala Simpang Rp 120.000

Banda Aceh – Sungai Luput Rp 120.000

Banda Aceh – Langkat Tamiang Rp 140.000

Banda Aceh – Lamno Rp 35.000

Banda Aceh – Calang Rp 70.000

Banda Aceh – Teunom Rp 85.000

Banda Aceh – Meulaboh Rp 95.000

Banda Aceh – Jeuram Rp 110.000

Banda Aceh – Alue Bilie Rp 110.000

Banda Aceh – Kuala Batee Rp 115.000

Banda Aceh – Blang Pidie Rp 120.000

Banda Aceh – Manggeng Rp 125.000

Banda Aceh – Labuhan Haji Rp 135.000

Banda Aceh – Tapak Tuan Rp 145.000

Banda Aceh – Kota Fajar Rp 165.000

Banda Aceh – Bakongan Rp 175.000

Banda Aceh – Subulussalam Rp 210.000

Banda Aceh – Singkil Rp 230.000. (NK)

Lagi, Polisi Tangkap Pengguna Sabu di Pidie

Posted by Naufal Khalish | Sunday, July 21, 2013 | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | Pidie – Satuan Narkoba Polres Pidie berhasil menangkap seorang tersangka pengguna narkoba jenis sabu berinisial TS (33), warga Gampong Keutapang, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie, Sabtu (20/7/2013) sekira pukul 00.30 WIB.

Sedangkan seorang tersangka lainnya berinisial Adi, melarikan diri dari pengejaran petugas. Dari tangan tersangka ditemukan dua  paket sabu seberat 0,10 gram. Adapun tersangka dan barang bukti sudah diamankan di Mapolres Pidie, guna penyelidikan lebih lanjut.

Kasat Narkoba Polres Pidie, AKP Aiyub, kepada AtjehLINK menerangkan bahwa tersangka TS ditangkap personil satuannya setelah melakukan pengintaian di Gampong Masjid Rampong, Kecamatan Peukan Baro.

“Tersangka pada saat itu bergelagat mencurigakan, lalu anggota kami menghentikan sepeda motornya. Meskipun tersangka sempat melarikan diri, namun dengan kesiapan anggota kami, tersangka berhasil ditangkap dan ditemukan dua paket sabu-sabu seberat 0,10 gram,” jelasnya.

Masih menurut Aiyub, saat diintograsi tersangka mengaku paket tersebut didapatkan dari Adi (nama panggilan). “Kemudian kami langsung menuju kerumah Adi. Setelah tiba di lokasi ternyata tersangka sudah mencurigai datangnya polisi sehingga dia berhasil melarikan diri,” pungkas Aiyub.

Kelapa Bakar, Takjil Istimewa dari Meulaboh

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | Aceh Barat – Kelapa Bakar menjadi menu istimewa selama bulan puasa bagi masyarakat Kota Meulaboh dan sekitarnya. Istimewanya, Kelapa Bakar hanya ada selama bulan Ramadhan saja, Minggu (21/07/2013).

Selama bulan Ramadhan, penjual Kelapa Muda banyak dijumpai di semua daerah di Aceh, namun Kelapa Bakar untuk menu berbuka puasa hanya akan anda jumpai di ‘Bumi Teuku Umar’.

Kelapa Bakar tersebut tergolong unik, selain hanya ada di bulan Ramadhan saja,  pembuatannya juga melalui proses pembakaran. “Kelapa Bakar ini menjadi menu favorit keluarga saya, makin nikmat disajikan dengan sirup merah. Selain itu juga berkhasiat menyegarkan badan,” ucap Daniel, seorang pembeli.

Parni seorang penjual Kelapa Bakar di jalan Manek Roo Kota Melaboh mengungkapkan kelapa yang dijualnya ini berasal dari kampungnya di Desa Penaga. Selama Ramadhan banyak warga disana mengolah Kelapa Bakar untuk dijual.

Dua buah Kelapa Bakar dalam satu ikat tersebut dengan harga Rp 10.000 rupiah/ikat. Rata-rata ia mampu menjual 15 ikat Kelapa Bakar setiap harinya dan pada saat-saat tertentu kelapa tersebut pun habis terjual.

Parni juga menjelaskan proses pengolahan Kelapa Bakar ini pun cukup sederhana.  ”Kelapa yang setengah tua atau mengkal dimasukan ke lubang tanah yang sudah ditumpuk bahan bakar, kemudian kelapa tersebut ditutup lagi dengan sabut kelapa,” kata Parni.

Proses pembakaran tersebut lanjut Partni memakan waktu sampai 30 menit sampai kulitnya terbakar hitam kemudian baru diangkat untuk dikupas kulitnya.

Pengelupasan kulit ini pun menggunakan  air laut yang  di siram ke sabut kelapa yang sudah dibakar. “Harus dikupas dengan tangan, agar warnanya menjadi pink, jika tidak warna kelapa menjadi merah tua,” pungkasnya.

Pembunuh Gadis Abdya Ditangkap Di Meulaboh

Posted by Naufal Khalish | Monday, July 15, 2013 | Posted in ,

InfoKeuRakan | Meulaboh - Pembunuh Shinta Silvia (17), seorang siswi SMA Negeri 1 Blangpidie pada  Sabtu 13 Juli 2013, berhasil dibekuk jajaran petugas kepolisian Polres Aceh Barat Daya (Abdya) di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.
Pelaku bernisial Kiki (18) ditangkap di perkarangan kantor Bupati Aceh Barat, sekitar pukul 10:10 WIB. Informasi diperoleh DiliputNews.com, pelaku merupakan sepupu korban.
Sebelum di tangkap pelaku sedang beraktivitas di salah satu dosmir, tiba-tiba ia melihat mobil anggota polisi Abdya, tanpa hitungan menit Kiki mencoba melarikan diri.
“Ketika melihat mobil Polisi Abdya, ia merasa ketakutan dan melarikan diri, hingga memasuki perkarangan Kantor Bupati Aceh Barat,” kata anggota Satpol PP Aceh Barat.
Sementara itu, seorang anggota Polres Abdya yang memburu pelaku mengatakan pelaku menjadi buronan selama dua hari, penyisiran dilakukan mulai dari Abdya, Aceh Barat, hingga Aceh Jaya.
“Pelaku rencanakan akan dibawa ke Abdya, sebab wilayah hukumya di sana,” kata anggota Polres Abdya.
Pantuan DiliputNews.com, setelah ditangkap pelaku langsung diboyong ke Mapolres Aceh Barat, untuk menghindari amuk massa.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Seorang gadis 17 tahun di temukan tewas bersimbah darah di rumahnya, Gampong Pantee Pirak, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya (Abdya),Sabtu (13/7).
Gadis yang baru duduk kelas III SMA Negeri 1 Blangpidie itu bernama Shinta Silvia (17), mengalami 20 tusukan benda tajam di bagian dada dan punggung.

Sumber : http://diliputnews.com

BNPB apresiasi lembaga yang membantu korban gempa Gayo

Posted by Naufal Khalish | Friday, July 12, 2013 | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | KEPALA Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan BNPB mengapresiasi keberadaan dan dukungan dari organisasi-organisasi yang telah datang membantu korban gempa Gayo.
Bantuan ini menjadi berharga mengingat kapasitas pemda untuk menangani sendiri dampak bencana relatif terbatas.

"Pemda dan BPBA tidak akan bisa melakukan semua sendirian. Makanya BNPB juga memberikan dukungan penuh. Dengan adanya dukungan lembaga lain di luar pemerintah, diharapkan kita bisa lebih optimal membantu saudara-saudara kita di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang menjadi korban gempa," kata Sutopo.

Sutopo meminta organisasi terkait terus melaporkan perkembangan aktivitas mereka ke Posko Penanggulangan Bencana, baik di Aceh Tengah maupun Bener Meriah. Koordinasi dengan BNPB, BPBA, dan instansi pemda sangat penting agar terjadi sinergi. Di samping itu, koordinasi juga perlu untuk mencegah inefisiensi di lapangan misalnya dalam bentuk bantuan atau program yang tumpang tindih.
Sutopo menambahkan, semua bantuan logistik sedapat mungkin agar disampaikan melalui Posko Penanggulangan Bencana.

"Silakan juga kalau ingin menyalurkan langsung. Kami hanya berharap pihak pemberi melaporkan bantuannya agar tercatat dengan baik," kata dia.
Kepala BNPB Syamsul Maarif yang telah datang langsung ke lokasi bencana sebelumnya telah menetapkan distribusi bantuan logistik sebanyak 80 persen untuk Aceh Tengah dan 20 persen Bener Meriah. Pembagian bantuan ini merujuk pada jumlah korban terdampak. Bupati Aceh Tengah dan Bener Meriah menyetujui kebijakan tersebut.

Jumlah pengungsi per 9 Juli 2013 tercatat sebanyak 52.113 jiwa atau 12.301 KK, di mana 32.129 jiwa (7.267 KK) terdapat di Aceh Tengah dan 19.984 jiwa (5.034 KK) di Bener Meriah.
Jumlah pengungsi diperkirakan telah berkurang sebab ada pengungsi yang telah kembali ke rumah. Mereka yang belum kembali umumnya adalah yang mengalami kerusakan rumah parah dan sedang, sehingga tidak dapat atau belum aman dihuni.

|AtjehPost.com|

Bantuan Gempa, 80 Persen ke Aceh Tengah, 20 Persen ke Bener Meriah

Posted by Naufal Khalish | Wednesday, July 10, 2013 | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | ACEH TENGAH - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan distribusi bantuan gempa Aceh, yaitu 80 persen untuk Aceh Tengah dan 20 persen untuk Bener Meriah, Kamis 11 Juli 2013. Ini karena dampak gempa, korban, dan kerusakan di Aceh Tengah lebih parah dibanding Bener Meriah. Kedua kabupaten ini merupakan wilayah yang diguncang gempa pada 2 Juli kemarin.

"Bupati Aceh Tengah dan Bupati Bener Meriah menyetujui kebijakan tersebut," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Oleh sebab itu BNPB meminta semua pihak yang hendak mengirimkan bantuan untuk korban gempa Aceh, mengacu pada proporsi distribusi bantuan yang telah ditetapkan tersebut.

Sutopo mengatakan, seluruh bantuan yang datang, baik dari lembaga, dunia usaha, media, internasional, sampai masyarakat umum, langsung disalurkan ke Posko Tanggap Darurat Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Jika ada pihak-pihak yang ingin menyerahkan bantuan secara langsung kepada korban, maka BNPB meminta mereka untuk melaporkan datanya ke Posko Tanggap Darurat.

Mekanisme pendistribusian bantuan gempa dilakukan dengan berkeliling. Petugaslah yang mendatangi warga, bukan warga yang datang ke posko. Bantuan BNPB yang telah disalurkan antara lain tenda keluarga 180 unit, genset 1,2 KVA 30 unit, velbed 600 unit, tenda pengungsi 66 unit, makanan siap saji 1.638 paket, lauk-pauk 1.218 paket, matras 52 lembar, tenda gulung 500 lembar, sandang 900 paket, selimut 360 lembar, peralatan dapur 200 paket, dan lain-lain.

Saat ini total jumlah pengungsi mencapai 52.113 jiwa (12.301 kepala keluarga), dengan rincian 32.129 jiwa (7.267 KK) terdapat di Aceh Tengah dan 19.984 jiwa (5.034 KK) di Bener Meriah. Banyak pengungsi yang telah kembali ke rumah masing-masing. Warga pun mulai memperbaiki rumah mereka secara mandiri. (vvn)

Sumbangan Dari acara Charity For Gayo Bertambah mencapai Rp.20.439.000

Posted by Naufal Khalish | Monday, July 8, 2013 | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | PELAKSANAAN konser amal bertema Charity For Gayo di Hotel Hermes Palace ternyata berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp.20.439.000, setelah di hitung ulang senin pagi, 8 Juni 2013.

Satu lagu berjudul Bumoe Meuba È yang dibawakan oleh Kande dibayar senilai Rp1 juta rupiah.  Request lagu tersebut dibayar oleh salah seorang perwakilan PMI Aceh. Dana untuk disumbangkan kepada masyarakat Gayo yang tertimpa musibah gempa.

Sementara perwakilan Polda Aceh juga menyumbangkan uang senilai Rp500 ribu rupiah untuk lelang secangkir kopi luwak dari tanah gayo.

Sebelumnya diberitakan, malam penggalangan dana untuk Gayo atau charity yang digelar oleh manajemen Hotel Hermes Palace diisi dengan penampilan Hip Hop NAD Syndicate dan group band asal Aceh, Kande.

Pembukaan malam Charity For Gayo diawali dengan penampilan rapai Nasyid. Acara juga diisi oleh Agus PMTOH dan Udin Pelor.

General Manager Hermes Hotel Octowandi mengatakan acara malam penggalangan dana yang digelar malam ini merupakan bentuk kepedulian Hotel Hermes terhadap warga Gayo. Kata dia, acara dikemas dengan menjual tiket senilai 100 ribu rupiah.

Dan seratus persen uang yang terkumpul akan di berikan kepada korban gempa gayo

|NK|

Konser amal di Hotel Hermes Palace kumpulkan Rp18.239.000

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | Banda Aceh - PELAKSANAAN konser amal bertema Charity For Gayo di Hotel Hermes Palace berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp18 juta lebih, Minggu malam, 7 Juli 2013.

Satu lagu berjudul Bumoe Meuba È yang dibawakan oleh Kande dibayar senilai Rp1 juta rupiah.  Request lagu tersebut dibayar oleh salah seorang perwakilan PMI Aceh. Dana untuk disumbangkan kepada masyarakat Gayo yang tertimpa musibah gempa.

Sementara perwakilan Polda Aceh juga menyumbangkan uang senilai Rp500 ribu rupiah untuk lelang secangkir kopi luwak dari tanah gayo.

Sebelumnya diberitakan, malam penggalangan dana untuk Gayo atau charity yang digelar oleh manajemen Hotel Hermes Palace diisi dengan penampilan Hip Hop NAD Syndicate dan group band asal Aceh, Kande.

Pembukaan malam Charity For Gayo diawali dengan penampilan rapai Nasyid. Acara juga diisi oleh Agus PMTOH dan Udin Pelor.

General Manager Hermes Hotel Octowandi mengatakan acara malam penggalangan dana yang digelar malam ini merupakan bentuk kepedulian Hotel Hermes terhadap warga Gayo. Kata dia, acara dikemas dengan menjual tiket senilai 100 ribu rupiah.

Dan seratus persen uang yang terkumpul akan di berikan kepada korban gempa gayo

|NK|

Pengungsi gempa Gayo capai 16 ribu jiwa

Posted by Naufal Khalish | Saturday, July 6, 2013 | Posted in ,

GEMPA 6.2 SR di Aceh dinyatakan sebagai bencana tingkat provinsi oleh Gubernur Aceh karena menyangkut dua kabupaten yang terdampak parah yaitu Kab. Bener Meriah dan Kab. Aceh Tengah. Masa tanggap darurat ditetapkan selama 2 minggu yaitu 3-17 Juli 2013. Selanjutnya nanti akan dievaluasi apakah masa tanggap darurat dihentikan atau dilanjutkan dengan melihat kondisi di lapangan. Selama masa tanggap darurat maka fokus utama adalah pencarian dan penyelamatan korban, perawatan dan pengobatan bagi korban luka-luka dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, seperti kebutuhan sandang, permakanan, air bersih, obat-obatan, sanitasi, penampungan sementara dan pelayanan kesehatan.

Pencarian dan penyelamatan korban oleh tim SAR gabungan masih terus dilakukan karena dilaporkan masih ada 8 orang hilang di Aceh Tengah. Data sementara jumlah pengungsi mencapai 16.000 jiwa, dimana di Bener Meriah 12.500 jiwa dan di Aceh Tengah 3.500 jiwa. Pengungsi ada yang tersebar di titik-titik pengungsian tetapi juga ada yang di halaman rumahnya. Masyarakat sebagian masih trauma tinggal di rumah. Gempa susulan masih terjadi. Tercatat ada 23 kali gempa susulan pasca gempa 6,2 SR pada 2 Juli lalu.

Distribusi bantuan terus dilakukan. BNPB telah mengirimkan sekitar 40 ton bantuan logistik dan peralatan ke Bener Meriah dan Aceh Tengah, baik melalui jalur darat maupun dari udara dengan pesawat Hercules dan kargo. Hingga saat ini logistik masih mencukupi hingga 7 hari ke depan. Ketersediaan alat-alat kesehatan dan obat juga mencukupi.  Kebutuhan mendesak bagi pengungsi adalah tenda keluarga, selimut, tikar/matras/kasur, permakanan, sandang dan air bersih.

                                                                                                     DR. Sutopo Purwo Nugroho

                                                                                      Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Aburazak pimpin relawan Partai Aceh kirim bantuan untuk korban gempa Gayo

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | TIM Relawan Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh sudah mulai menyisir lokasi-lokasi bencana gempa di Bener Meriah dan Aceh Tengah. “Saat ini kami sudah berada di Bener Meriah,” kata Wakil Ketua Umum Partai Aceh Kamaruddin Abubakar (Aburazak) yang langsung memimpin Tim Relawan.

Aburazak mengatakan untuk tahap pertama ini tim relawan ini sudah membentuk posko-posko bencana di seluruh lokasi musibah. “Kita membawa kebutuhan-kebutuhan pokok untuk pengungsi seperti beras, mie instan, dan beberapa kebutuhan lainnya,” kata Aburazak. “Kami selama dua hari berada di sini meninjau seluruh lokasi bencana.”

Selain membagi bantuan, kata Aburazak, selama menyisir lokasi musibah, Tim Relawan Partai Aceh akan mendata kebutuhan-kebutuhan pengungsi. “Dari pendataan ini nanti akan kami penuhi lagi kebutuhan-kebutuhan korban bencana,” katanya.

Aburazak menjelaskan, Tim Relawan yang langsung dipimpinnya ini menyertakan sejumlah Anggota DPR Aceh di antaranya ada Adli Calok. Selain itu, ada juga anggota DPR Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. “Tim dari Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, dan juga Aceh Timur, sudah ikut bergabung di sini,” katanya. “Nanti semua wilayah kepengurusan Partai Aceh dan juga KPA, akan ikut serta membantu korban,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf sudah menginstruksikan seluruh jajaran pengurus organisasi yang dipimpinnya untuk segera membentuk tim relawan membantu korban gempa.

Selain Partai Aceh, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem ini juga adalah Ketua Komite Peralihan Aceh. Dia juga memimpin Pramuka Aceh, dan Tim Relawan dari Pramuka Aceh juga sudah turun ke lokasi gempa untuk membantu korban.  “Mari kita sama-sama membantu saudara-saudara kita di daerah Gayo yang kini sedang tertimpa musibah,” kata Mualem yang juga adalah Wakil Gubernur Aceh ini.

|atjehpost.com|

Brimob fokus cari 7 korban tertimbun longsor di Serempah Aceh Tengah

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

TIM Brimob Polda Aceh masih fokus mencari tujuh korban tertimbun longsor akibat gempa di Desa Serempah, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. 

“Hari ini kita masih fokus pencarian tujuh korban yang belum ditemukan di Desa Serempah,” kata Inspektur Satu Iswahyudi, Komandan Kompi-4 Detasemen-B Brimob Polda Aceh kepada ATJEHPOSTcom melalui layanan BlackBerry Messenger, tadi sekitar pukul 11.00 WIB, Sabtu, 6 Juli 2013.

Jumat, Kemarin, kata Iswahyudi, sebagian tim Brimob bersama rombongan Kapolda Aceh dan Kasat Brimob memasok bantuan sembako ke pengungsi di Desa Cang Duri, Desa Simpang Juli dan Desa Jalok, Kecamatan Ketol. “Sebagian tim lainnya kemarin mengevakuasi dua jenazah warga Desa Segene Balik yang ditemukan tertimbun dalam longsor,” katanya.

|atjehpost.com|

Bakal kunjungi lokasi gempa Gayo, ini permintaan SBY

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan tiba di lokasi bencana gempa Aceh Tengah dan Bener Meriah, Senin 8 Juli 2013. Yudhoyono mengatakan rencana kunjungannya jangan sampai menghambat penanganan tanggap darurat di kedua daerah itu.

Niatnya untuk berkunjung disampaikan saat melakukan video conference bersama Danrem 011/LW, Kolonel Inf Hipdizah, Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB Fathul Hadi, Bupati Aceh Tengah Nasaruddin dan Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani serta seluruh tim yang tergabung dalam Satuan Tanggap Darurat di posko Bener Meriah, Jumat 5 Juli 2013.

Presiden turut menanyakan perkembangan pasca bencana di kedua daerah. Ia juga meminta laporan penanganan bencana dari pihak-pihak terkait yang bekerja di daerah dan ingin mengetahui apa saja yang sudah dilakukan untuk membantu korban gempa.

Komandan Korem 011 Lilawangsa Kolonel Inf Hifdizah, selaku komando pelaksana tanggap darurat kepada Presiden melaporkan tentang kondisi pengungsi yang masih membutuhkan bantuan.

Danrem mengatakan kebutuhan mendesak pasca bencana yang masih sangat diperlukan para korban gempa adalah bahan logistik juga selimut serta obat-obatan dan kebutuhan bayi.

"Termasuk juga gizi tambahan bagi pengungsi," katanya.

Di akhir video conference yang digelar Presiden SBY kemudian mengutarakan niatnya untuk berkunjung. Presiden sempat meminta saran terkait jadwal kunjungan yang tepat karena tidak ingin mengganggu penanganan tanggap darurat yang sedang berjalan di wilayah itu.

"Baik saya terima sarannya, Senin bermalam di sana, Selasa kembali 1 hari sebelum Ramadan. Tapi Danrem jangan terganggu ke saya, tetap utamakan tanggap daruratnya, saya akan kesana dengan peralatan sendiri," kata Presiden.

|atjehpostCOM|

Situasi kota Takengon mulai normal usai dilanda gempa

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | SITUASI kota Takengon sudah mulai normal kembali pagi ini, Sabtu 6 Juli 2013. Toko-toko dan pasar sudah mulai beraktivitas seperti di sepanjang jalan Lintang, Terminal, Kecamatan Lut Tawar  Takengon, Aceh Tengah.

"Baru hari ini kami pulang," ujar pemilik Wisma Intan Yanti Nst di jalan Mersa 29, Kota Takengon Aceh Tengah kepada ATJEHPOSTcom, Sabtu 6 Juli 2013.

Sebelumnya Yanti dan keluarganya mengungsi ke rumah saudara yang tidak jauh dari Wisma miliknya.

"Tamu tetap ada, tapi mereka dari lembaga-lembaga yang menyalurkan bantuan," kata Yanti.

Kota Takengon, kata dia, sejak kemarin sudah beraktivitas dan pusat pasar sudah bergeliat. Hanya saja masih ada trauma karena setelah menggelar lapak begitu terasa getaran langsung menggulungnya kembali.

"Walau aktivitas masyarakat sudah ada, trauma tetap ada," kata Yanti.

Pantauan ATJEHPOSTcom di seputar kota Takengon hingga pukul 08.00 WIB mulai ramai. Kantor Pos di Takengon juga sudah disesaki warga yang mengantri. Namun kondisi tersebut berbeda dengan kantor Telkom yang terlihat ada dua tenda besar di halamannya.

|AtjehPost.com|

Minggu Ini, “Charity for Gayo” Bersama Rafly Kande

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | HERMES Palace Hotel kembali mengadakan kegiatan yang Hermes Peduli yang bertajuk “Charity for Gayo” pada hari Minggu (7/7) pukul 20.00 WIB dalam rangka membantun saudara-saudara yang tertimpa musibah gempa 6,2 SR di Bener Meriah dan sekitarnya.

“Mengingat warga Bener Meriah dan takengon sedang sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materil, maka kita berniat untuk mengadakan penggalangan dana bantuan untuk warga Gayo,” jelas General Manager Hermes Palace Hotel Octowandi, Jum’at (5/7) dalam rilisnya.

Acara dalam bentuk konser amal yang di dukung oleh banyak pihak seperti Rafly dan Kande, KNPI Aceh, Gerakan Pemuda Ansor Aceh, Sanggar tari Nurul Alam, Hip Hop NAD syndicate, Agus PM TOH, CV. Narizky dan beberapa media local yang telah membantu untuk publikasi untuk acara ini.

Sementara ini, grup Kande akan tampil dengan membawakan 6-7 lagu terbarunya diselingi dengan pembacaan puisi oleh vokalisnya Rafly.

Pada acara ini Hermes Palace Hotel menjual tiket masuk seharga Rp. 100.000,-/orang termasuk snack box, dan 100% dana yang terkumpul termasuk tiket yang terjual pada saat acara tersebut akan diberikan langsung ke lokasi bencana.

“Seluruh dana yang didapat dari acara tersebut akan di hitung dan langsung diumumkan pada saat acara, tepatnya sebelum penutupan acara,” tambah Octowandi.

Tim relawan Nasdem berangkat ke lokasi gempa Gayo

Posted by Naufal Khalish | Wednesday, July 3, 2013 | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | TIM relawan Partai Nasdem berangkat menuju lokasi gempa di Gayo, Rabu dini hari, pukul 00.00 WIB.
Pantauan ATJEHPOSTcom di Kantor DPW Nasdem Aceh, sejumlah bantuan mulai dimuat ke mobil pic up.
Adapun bantuan yang disediakan diantaranya, seperti indomie, susu anak anak, pembalut wanita, air mineral dan beberapa kebutuhan pokok lainnya.
Dewan Pembina Nasdem Aceh, T. Pribadi, mengatakan pihaknya  menurunkan  tim relawan untuk segera menuju ke lokasi untuk membawa bantuan.
"Insyaallah besok pagi tim relawan sudah sampai lokasi," katanya.
Sementara itu, Ketua Partai NasDem Aceh, H. Zaini Djalil SH, menambahkan  bantuan yang dibawa ke lokasi musibah merupakan hasil bantuan sukarela masyarakat di Banda Aceh.
"Bantuan ini selain dari anggota Nasdem juga banyak dari masyarakat dan kita membantu membawanya sampai ketujuan," kata dia.
Zaini mengatakan kedatangan pihaknya ke lokasi musibah juga sudah dikoordinasi sama Nasdem Bener Meriah dan Aceh Tengah. "Di sana teman teman sudah menunggu, dan besok pagi bantuan ini langsung disalurkan," ujar dia.
Adapun tim relawan yang ikut berangkat dari Banda Aceh, selain tim relawan Nasdem juga tim MAPALA Unsyiah.

Badan Penanggulangan Bencana kirim tim reaksi cepat ke Aceh

Posted by Naufal Khalish | | Posted in ,

INFO KEU RAKAN | BADAN Nasional Penanggulangan Bencana mengirim tim reaksi cepat untuk mengkaji dampak kerusakan akibat gempa bumi 6,2 Skala Richter di Aceh.
Tadi malam, Selasa 2 Juli 2013, sekitar pukul 21.00 Wib dengan pesawat khusus Susie Air, tim berangkat ke Aceh.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, tim terdiri dari BNPB, SRC PB (Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana), Kementerian Sosial, Kementerian PU dan Kementerian Kesehatan.
BNPB, kata dia, terus berkoordinasi dengan BPBA untuk melakukan penanganan darurat.
Data sementara hingga tadi malam dari BPBA Bener Meriah dilaporkan 1 orang meninggal,  puluhan orang luka, 22 rumah rusak berat dan 2 masjid rusak berat di daerah Cekal dan Sumber Jaya. Dilaporkan beberapa ruas jalan retak dan tertimbun longsor.
Sedangkan BPBA Aceh Tengah, melaporkan terdapat 1 orang anak meninggal dunia, 140 orang luka-luka dan dibawa ke rumah sakit, 300 unit rumah rusak berat/ringan, 1 ruas jalan terputus di Km 92  Takengon, Kec Kebayakan, Kp Muliye. Korban meninggal karena tertimbun rumah yang runtuh di desa Bah, Belang Mancung, Kec Ketol, Kab Aceh Tengah.
Selamat datang di Portal Berita Online INFO ATJEH | Untuk Pemasangan iklan , pariwara atau kerja sama, silahkan hubungi di Hotline 085263462710 atau di email infokeurakan15@gmail.com | Terima Kasih